Senja di sore hari membuat aku selalu ingat dengan mu. Orang yang selalu ada disampingku saat aku merasakan kesepian, orang yang selalu ada ketika aku merasa bimbang, orang yang selalu memberikan aku semangat hidup. Tapi sayangnya aku baru menyadari semua keindahan itu disaat aku jauh dari dirimu. Aku juga tak tau mengapa ku bisa seperti ini padahal sejak dulu aku dan kau sudah bersama. Tapi Tuhan berkata lain, Dia memberikan aku perasa ini ketika aku jauh dari mu.
Aku ingat akan masa lalu ketika kau bertanya kepadaku. “Ngapain kamu disini, ini udah malem sana tidur.” Saat itu mungkin aku belum tau apa-apa sehingga aku hanya menuruti semua katamu. Dan mungkin pada saat itu aku masih belum menyadari kuasa Tuhan yang diberikan kepada kita berdua. Kemudian kau dan aku tidur hingga pagi datang dank au pun bertanya lagi kepada ku tentang kejadian semalam.
“Semalem ngapain sih kok malem-malem ada disitu?” dengan pebuh penasaran kau tanyakan itu kepadaku. Didalam hati aku ingin sekali mengatakan semuanya tapi apa boleh kata saat itu kau dan aku tak menyadari kuasa-Nya. Dan akhirnya aku terpaksa berbohong kepadamu. “Semalem gak ngapa-ngapain kok, pipis aja.”
Jujur dalam hati aku merasakan bahwa kau yang membangunkan aku untuk segera mandi karena hari sudah pagi. Tapi mengapa kau tak menyadarinya, apakah dia bukan kau.
Waktu terus berjalan, hari berganti minggu kemudian berganti bulan dan terus berganti tahun. Hingga saat aku dewasa sekarang ini kau pun masih mengatur segala kebutuhan ku. Dan mungkin aku tak akn bisa hidup tanpa dirimu. Kau selalu mengarahkan aku pada hal yang sedikit aku tidak suka tapi apa boleh buat aku menghormati mu jadi sampai kapan pun mungkin apa kemauan mu akan aku turuti.
Saat kelulusan SMK tiba kau selalu berdoa akan keberhasilanku. Semangat mu membuat aku selalu berpikir bagaimana supaya aku bisa membanggakan mu. Aku tak ingin kalah dari semangat mu, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk mengalahkan teman-teman ku disekolah hingga saat indah itu aku bisa menunjukkan keberhasilan belajar ku kepadamu. Hasil kerja ku ini selalu ku tunjukkan kepada mu. Dan aku tau ini tidak lah mudah untuk mempertahankannya, dan kau pun tau bahwa semua yang ku lakukan adalah doa mu.
Saat itu saat aku sedang bimbang kau sempat bertengkar kepadaku tentang masa depan ku. Kau ingin aku menjadi ini sedangkan aku masih tak tahu harus melakukan apa setelah kelulusan itu. Kau tunjukkan aku begitu banyak prospek. Namun di masa-masa kosong itu kau selalu disampingku dan selalu mendukungku. Dan yang paling ku ingat kau selalu membanggakan ku kepada banyak teman-temanmu. Aku senang, aku puas tapi aku malu jika semua yang kau ceritakan tidak bisa ku raih. Tapi untuk mu akan ku coba untuk melakukanya, karena dirimu adalah segalanya dalam hidupku.
Ketika masa kosong itu hampir habis kau menemani aku ke berbagai tempat. Tak lagi kau pikirkan waktu yang kau buang, materi yang dikorbankan, tenanga yang dikeluarkan dan kasih sayang untuk yang lain yang kau korbankan. Meskipun aku tak menginginkannya tapi aku coba untuk melakukannya. Ingatkah kau ketika kita berada di STT PLN? Saat salah satu persyaratan itu tak ada di berkas-berkasku? Kau begitu panik, kecewa kepadaku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menghubungi pihak SMK untuk mengirimkannya ke STT PLN melewati fax, tapi saat itu kau yang membantuku untuk berbicara kepada pihak sekolah. Sungguh aku malu, aku merasa sangat tidak berguna selalu menyusahkan mu dimanapun aku berada.
Pengorbanan yang kau berikan untuk ku sudah begitu banyak hingga akhirnya aku tidak memenuhi persyaratan di STT PLN pun kau masih tetap berkorban memasukkan ku ke sebuah institusi swasta yang ada di llampung. Kau temani aku hingga ku pun bingung harus memilih apa. Aku tau kau sudah lelah tapi aku juga tau bahwa kau ingin aku punya kesibukan agar menjadi manusia yang benar. “Mau pilih jurusan yang mana? Ni cari yang sesuai sama jurusan mu biar nanti bener.” Itu kata-kata yang ku ingat saat kita berada di jalan menuju institusi tersebut. Kau dan aku tau bahwa ini hanya formalitas dan semua pasti bisa masuk ke institusi tersebut. Aku akan menjalaninya untuk mu. Hingga hari H ujian tiba kau mendoakan ku agar aku bisa diterima disana. Aku berangkat atas doamu dan atas ijinmu.
Aku ingat saat itu aku masih nakal. Aku masih belum mengerti tentang apa itu hidup yang benar. Saat itu aku terpaksa pergi diam-diam untuk bertemu dengan teman chating ku untuk pergi ke sebuah tempat yang tentunya tempat itu juga sudah dinilai buruk oleh berbagi orang. Disana aku melakukannya, meskipun tidak sampai tapi aku tau ini salah. Demi Tuhan aku sangat tidak ingin melakukan semua ini tapi aku sudah terlanjur terjun ke dalam lubang hitam ini dan sulit bagiku untuk lepas dari ini. Sekuat apapun ku coba untuk lepas tapi tetap saja semua terasa begitu berat untuk ku tinggalkan. Setelah aku selesai melakukan pertemuan ini aku kembali ke tempat semula aku bertemu dengannya dan kembali pulang untuk bertemu denganmu. Hingga tiga hari kedepan aku melakukan hal ini, hingga ku tau bahwa aku telah dimanfaatkan olehnya. Saat itu aku baru sadar betapa bodohnya aku percaya dengan dia yang baru beberapa hari aku kenal. Aku menyesal tapi tetap saja tak bisa meninggalkan semua itu. Aku malu pada diriku sendiri, aku malu pada mu dan aku sedih dan kecewa pada diriku sendiri yang telah membohongi mu hingga seperti ini. Aku ingin berubah…
Beberapa minggu kedepan kau ajak aku untuk mencoba mendaftar pada institusi swasta di bandung. Saat itu aku sudah merasakan penat, bahkan aku merasakan lelah mengikuti keinginanmu. Terpaksa aku datang untuk mengikuti ujian tersebut. Pagi sekali aku datang dan tiba disana hanya beberapa orang yang melakukan ujian tersebut. Saat itu aku kembali memanfaatkan keadaan untuk melakukannya lagi. Aku pulang lebih lama dari yang dijanjikan. Aku bermain dengan dia. Entah apa yang ada dipikiran ku saat itu. Aku hanya menginginkan kesenangan tanpa tau apa akibatnya jika aku melakukan ini. Tapi semua sudah terlambat karena aku sudah melakukannya.
Kau memang tak tau apa yang ku lakukan tapi aku tau nurani hati mu mengetahui apa yang ku lakukan sehari-hari. Kau begitu peka jika terjadi perubahan sekecil apapun pada diriku. Aku ingat pada saat aku kecil dulu kau pernah menamparku karena kesalahan besarku. Aku pergi tanpa pamit bersama dengan lelaki yang image nya sudah jelek dimata semua orang. Tapi meski begitu kau sempat memberinya pekerjaan dirumah. Kau persilahkan dia membantu pekerjaan rumah meski tidak semua dia lakukan.
Pada saat itu aku masih terlaku kecil untuk menerka dan menebak apa yang akan terjadi tapi sejujurnya aku tau apa yang akan lelaki itu lakukan kepada ku. Aku dibawanya ke tempat yang aku tau itu sepi dan tidak ada orang. Aku belum melakukannya sungguh… dia hanya memelukku dan aku menghentikan lalu meronta untuk meminta pulang. Ketika pulang ku lihat masjid saat itu sudah sepi dan ini pertanda kami sudah terlambat kami terlewat batas. Saat itu aku pulang dank au menunggu ku di depan rumah ku tau kau kecewa kepada ku tapi apa daya ku untuk menjelaskannya karena yang ada padaku hanya kekesalan karena kau tak memberi ku kebebasan untuk menikmati masa mudaku.
Saat itu kau tampar aku hingga air mataku tak terbendung lagi. Kau luapkan kemarahan mu pada ku, aku tau tak seharusnya aku membantah untuk membela diri karena ku tau saat itu aku lah yang salah dan harusnya aku lah yang meminta maaf kepadamu.
Keesokan harinya kau selidiki kemana aku pergi. Kau mencari informasi dengan siapa aku pergi malam itu. Dan kau memutuskan untuk menjauhkan aku dari dia dan keluarganya. Aku memang tak merasa sedih namu tak juga merasa bahagia tapi aku merasakan kehilangan Karena aku tak bisa bertemu dengan dia, orang yang bisa mengajak ku untuk bermain kemanapun aku mau. Tapi itulah dirimu orang yang begitu peduli kepadaku meskipun aku melakukan kesalahan sekalipun. Kau menjaga ku dengan sepenuh hatimu. Kau berikan perlindungan kepadaku dengan sepenuh hatimu. Harusnya aku menghargai semua itu, harusnya aku membalas dengan kata “Terima Kasih” agar kau merasa dihargai oleh ku.
Bagiku kau segalanya. Kau sekarang bagaikan kekuatan hatiku yang tak boleh hilang meskipun sebentar, tapi dengan keadaan mu yang sekarang harusnya aku sadar diri karena harusnya aku lah yang menjadi kekuatan jiwa dan raga mu saat ini. Tapi nyatanya aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Aku tak bisa menjagamu seperti kau menjagaku dulu. Aku tak bisa membalas semua yang aku berikan kepada ku ketika aku kecil sampai aku dewasa ini.
Jujur ku akui aku menginginkan ini sejak dulu, sejak aku kecil. Namun baru sekarang aku bisa mencurahkan isi hati ku kepadamu. Aku ingat dulu kau pernah berkata kepadaku bahwa “Jadikanlah kami sebagai sahabat mu tempat orang kepercayaan mu satu-satunya, jadikanlah kami tempat mu mencurahkan perasaan mu, kami takkan pernah keberatan untuk mendengarkannya karena kami sayang pada mu.” Seandainya saja sejak dulu aku bisa melakukan ini kepada mu pasti aku bisa lebih mengerti apa itu arti keluarga yang sebenarnya. Tapi meski baru sekarang ku rasakan kedekatan dan kehangatan itu aku tetap bersyukur karena saat ini aku menjadi kepercayaan mu dan aku menjadi orang yang selalu kau rindu meskipun sulit untuk mu melihat ku tapi yang penting kehangatan ku akan selalu ada untuk mu.
